by

Driving Your Heart Girl

-Tausiyah-43 views

Saya benar-benar terperanjat kaget, ketika sadar, setahun tidak keluar rumah kecuali salat saja. Bahkan, saya sudah sekian tahun fokus membangun bisnis online, namun semuanya gagal. Ketika saya koreksi diri, sebagian besar waktu saya, habis hanya untuk mengejar isi dunia. Sangat melelahkan. Sedihnya, meski lelah, selama ini tidak sadar kalau saya salah arah. Stress, depresi, bosan, capek, semua lelah menjadi satu.

Saya kira, hanya saya yang terjebak dalam pencarian dunia. Namun, ketika saya keluar dan melihat sekeliling, ternyata mayoritas muslim melakukan hal yang sama dengan saya. Sehingga, saya sedikit lega. Walau begitu tetaplah merasakan nelangsa tiada batas. Sadar kalau akan mati, tapi tidak menyadari untuk menyiapkan bekal mati.

Ketika mendapatkan kesempatan umrah, saya amati di tanah suci, terkhusus di Masjid Nabawi dan Haram, kebanyakan orang sibuk dengan: selfie, bergosip tentang keberadaan di tanah suci, cerita soal ibadah yang dilakukan kepada sesame rombongan. Dan yang terakhir, sibuk berbelanja. Dalil mereka “belum tentu setahun sekali.” Nah, dari sini, banyak sekali yang tidak sadar, kalau kemudian mereka melupakan bahwa riya’ dan sum’ah, oleh utusan-Nya disebut sebagai pembatal amalan.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,“Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”[HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri, hadits ini hasan-Shahih Ibnu Majah, no. 3389]

Hati, adalah pangkal dari semuanya. Perilaku akan baik, jika hati baik. Perilaku akan jahat jika hati jahat. Setidaknya, itulah yang saya tangkap dari hadis nabi yang benar-benar membetot kesadaran saya. Sering saya dengar, sering saya sampaikan, namun sesering itu saya lupa untuk menyelami dan mempraktekkan lebih dalam.

Kita paham soal karakter hati, namun kita tidak mau memahami cara mengendalikan hati. Saya ingat  pesan orang bijak; jadi manusia harus pandai menyetir hati, jika ingin menjadi manusia seutuhnya. Pesan tersebut benar terngiang dalam sekali di benak saya. Sehingga, saya mencoba bangkit dan menjauhkan diri dari kesibukan dunia saja. Salah satunya, saya membagi 7 hari menjadi 2 klasifikasi. Pertama untuk mencari dunia, 2 hari untuk Allah. Saya membuka kursus, menyebarkan ilmu yang saya punyai.

Kemudian mencoba untuk memberikan pengaruh kebaikan. Sehingga, saya akan selalu memiliki self reminder yang berguna. Kita terlalu banyak melewatkan kebaikan, tapi kita justru semakin tidak memahami arti kebaikan. Tapi, kita selalu mengatakan butuh kebaikan. Di sisi lain, perkembangan teknologi benar-benar mengubah perilaku ibadah kaum muslimin.

Saya menyaksikan sendiri, jutaan muslim datang dari penjuru dunia untuk tawaf di kakbah. Tapi rerata mereka justru menghilangkan ikhlas dari dalam hatinya, dengan menyiarkan ibadah yang dilakukan. Sekarang, kita dapati kaum muslimin jumlahnya melimpah. Tapi, kita juga bersedih mereka semakin melupakan hati.

Hati yang seharusnya menjadi tolak ukur dari kebaikan dan keburukan. Yang sudah disebutkan dalam sabda lelaki paling mulia di atas muka bumi ini, Muhammad Alaihi shalatu wassalam.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Dalam Syarh Muslim disebutkan, mayoritas ulama menyebutkan, walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, tetapi baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29)

Driving your heart. Sepenggal kalimat ringkas namun terlupa oleh kita semua. Wajar jika orang susah membedakan kebutuhan dengan keinginan. Makanya, malapetaka terjadi. Kepergian umrah dan haji sekarang beda dengan tahun 1900 sampai 1990. Ketika itu masih sangat manual, sehingga kerja keras dan kesabaran sangat dibutuhkan. Di tahun ini, kemudahan dan teknologi mengubah pemikiran orang. Umrah dan haji adalah spot selfie tertinggi bagi ummat muslim. Bukti menyebutkan demikian, tapi kita menyanggah dengan berbagai alasan. Faktanya dalam haji dan umrah hanya 20-30 persen yang paham tujuan perjalanannya dengan baik.

Kontradiksi Iklas dan Pamer

Kakbah adalah perhatian tertinggi ummat islam di seluruh dunia. Keindahan bangunan, dan letaknya yang jauh, membuat semua muslim bermimpi bisa ke sana. Padahal, mengunjungi kakbah adalah ibadah. Berkeliling di sana juga ibadah.

Prosesi umrah hanya 2-3 jam mungkin 5 jam paling lama. Ibadah yang dibutuhkan hanya ikhlas. Yah, inilah syarat agar ibadah diterima. Pada ikhlas, ada sebuah kontradiksi mengerikan yang harus diwaspadai kaum muslimin. Karena pamer adalah bagian dari rasa ingin dianggap mampu mengunjungi kakbah. Kemampuan uang menjadi factor utama.

“Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka Menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Al-baqarah: 271)

Ikhlas dan menyembunyikan amal salih juga disebutkan Nabi sebagai syarat mendapatkan naungan di saat tidak ada naungan, kecuali naungan Allah saja di akhirat kelak.

“Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).

Syaikh Abdul Kharim Al-Khudair memberikan wejangan, agar selayaknya seorang muslim senantiasa melihat kadar iklas dan riya’. Sebab, amalan 10 tahun yang lalu bisa terhapus dengan riya’ 1 detik saja.

Maka, ikhlas dan pamer memang kontradiksi paling abadi. Padahal, jika kita amati penyebabnya hanya satu hal: ingin diakui. Dan inilah yang menjadi pembeda antara orang yang menang dan kalah.

Driving Your Heart Girl

Sifat labil dan juga tidak stabil dalam emosi, membuat wanita lebih mudah berkeinginan untuk selfi di depan kakbah. Padahal, di depan kakbah seharusnya fokus ibadah. Bukan berfoto ria.

Yah, wanita suka dipuji daripada memuji. Karena itu, jika kita amati, di sosial media lebih banyak wanita yang pamer foto di sana, daripada lelaki. Melalui kata sapa ini saya ingin mengajak agar driving your heart girl. Kecantikanmu bukan untuk dipamerkan. Kepergianmu ke tanah suci bukan untuk pamer status, bahwa kau kaya, kau mampu. Namun untuk menjalankan ibadah pada Allah.

Selama beberapa tahun ini saya amati, sosmed memudahkan seorang istri durhaka pada suami. Padahal, ia diperintahkan untuk tidak keluar rumah tanpa izin suami. Walau begitu, jasadnya memang di rumah, fotonya?

Fotonya keluyuran tanpa ampun. Saya amati banyak dari istri lebih suka bersosialisasi di sosmed. Kemudian merealisasikan kebiasaan pamer di kehidupan nyata, dalam bentuk emak-emak sosialita. Apa tendensinya?

Status sosial.

Padahal para wanita ingin kehidupannya bahagia, ironisnya mereka tidak berusaha membentuk hidupnya agar bahagia. Padahal mereka berkeinginan membina rumah tangga seindah surga. Namun mereka berperilaku seperti neraka. Mereka ingin suami mengerti akan keinginan hatinya, tapi mereka tidak belajar komunikasi, melainkan di dunia nyata.

Jika Anda tidak menyetir hati Anda, tentu saja Anda akan kerwalahan menghadapi masalah dunia, masalah pernikahan. Jika Anda menyandarkan kebahagiaan pada orang lain, Anda tidak akan pernah merasakan bahagia. Sebab bahagia letaknya di hati. bukan di materi.

Dikisahkan, ada dua orang sahabat. Yang satu membawa emas 5 kilo, yang satu air 5 liter. Keduanya melakukan perjalanan, namun tersesat di padang pasir yang panas dan tandus. Di tengah gurun kendaraan mereka kehabisan bensin. Kemudian makanan juga habis. Ketika matahari sudah menyengat, rasa haus pun datang. Yang membawa air bisa minum dengan mudah. Namun yang membawa emas, tidak bisa.

Si pembawa emas ingin menukarkan emasnya dengan 1 tetes air. Tapi ditolak. Akhirnya emas itu dibuang. Kisah ini mengingatkan bahwa kita memang lebih terpaku pada nilai di depan, daripada belakang. Buku ini, saya tulis sebagai renungan bersama, agar kita lebih bisa mengendalikan hati, untuk melihat ke depan. Kepada nilai akhir bukan depan. Sehingga kita akan paham dengan dunia akhirat. Dan selamat dari segala keburukan dunia fana.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca