by

Ramadhan Berapa Hari Lagi? Ini Cara Mengetahuinya Menurut Agama

Ramadhan Berapa Hari Lagi? begitu pertanyaan sebagian orang setelah masuk awal tahun Masehi. Karena memang Ramadhan biasanya ada di bulan 4-6. Nah, bagi yang bertanya kapan puasa 2021, mungkin harus merujuk kepada beberapa berita.

Puasa 2021 atau Ramadhan 2021 tinggal menghitung hari. Karena menurut beberapa prediksi, baik organisasi agama maupun astronomi puasa kali ini akan jatuh 13 April 2021. Maka, Anda bisa menghitungnya mulai dari saat ini.

Cara Mengetahui 1 Ramadhan Sesuai Tuntunan Alquran dan Sunnah Nabi

Dalam agama islam, semua keputusan diambil dari Alquran dan Sunnah Nabi. Sehingga, hukum apapun baik yang sudah ditetapkan maupun yang belum diketahui oleh manusia harus merujuk ke sana.

Karena keduanya dasar hukum islam. Penetapan 1 Ramadhan 1442 Hijirah pun begitu. Sehingga, cara mengetahui ramadhan berapa hari lagi tentu saja harus kembali kepada ajaran agama dalam menetapkannya.

Nah, dalam agama untuk menetapkan bulan baru dalam penanggalan islam adalah dengan melihat bulan atau yang disebut rukyatul hilal.

Allah berfirman dalam alquran,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa”. [al Baqarah/2 :185].

Bukan hanya satu dalil yang memerintahkan pergantian kalender dengan melihat bulan. Dan pendapat inilah yang kuat, dan sebenarnya dipakai oleh kebanyakan ulama di dunia ini. Bukan dengan menghisabnya.

Namun kenapa ada yang menentukan pergantian kalender dengan hisab (hitung)?

Kembali lagi, itu adalah perbedaan pendapat dan cara memandang dari beberapa orang, organisasi, atau sekelompok ilmuwan. Sebagai seorang muslim yang memiliki semangat tinggi untuk mempelajari agama hendaknya memantapkan diri mengambil pendapat paling kuat saja dalam perkara ini.

Tapi bagaimana bisa terjadi perpecahan dalam menentukan pergantian kalender? Kawan Nita, simak dulu hadis di bawah ini yuk biar paham asal muasal terjadinya perbedaan tersebut.

Rasulullah bersabda,

”Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Sya’ban, pen). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhori Muslim)

 

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah menerangkan,

“Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits, akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab

Pendapat Ibnu Hajar di atas memiliki dasar hukum hadis di bawah ini,

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[5] dan tidak pula mengenal hisab[6]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30)”  (HR, Bukhori Muslim)

Sampai di sini, Kawan Nita sekalian sudah jelas ya? lalu apakah boleh seseorang itu berpuasa ketika ia melihat hilal sendiri? Para ulama sepakat bahwa jika seseorang tinggal di sebuah negeri dengan seorang pemimpin, maka yang dianggap adalah pengumuman hilal dari pemerintah tersebut.

Seperti di Indonesia, ada sidang isbat sebagai penentu awal Ramadhan. Dan sidang isbat didasarkan pada rukyatul hilal di banyak tempat. Jadi, Kawan Nita sekalian ngga perlu pusing deh tanya ramadhan berapa hari lagi?

Kita tunggu saja pengumuman dari pemerintah. Dan juga merujuk saja pada pendapat jumhur ulama, bahwa awal penanggalan berdasarkan rukyatul hilal bukan hisab. Sebagaimana sabda nabi Muhammad ‘alaihi shalatu wassalam.

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Rekomendasi Pembaca