by

Unconditional Love: Cerita Suatu Pagi Bersama Bapak

-Tausiyah-26 views

Sebenarnya tidak pantas. Tapi izinkan saya berkisah sedikit mengenai cerita pagi saya bersama bapak. Anda tentu sedih jika kehilangan orang yang dicintai, bukan? Saya pun demikian. Ketika menulis bab ini, kerinduan akan sosok bapak menggedor jiwa saya. Jadi mohon maaf kalau saya sisipakan cerita ini. Semoga Anda mengizinkan.

Tahun 2016, saya membawa sebuah Koran. Isinya, saya masuk Koran, ditulis sebagai seorang penulis yang blab la bla… Koran tersebut, saya berikan kepada bapak. Bapak saya cuma melihat, memandang, tersenyum. Satu sisi, saya memang merasa, bapak kayak tidak punya “minat” dan keinginan untuk memiliki Anak-anak yang sudah dibesarkan dengan susah payah. Keras, bahkan kasar.

Inilah kesan yang saya dapatkan. Saya memang beruntung dibesarkan orang tua dengan figure begitu. Bapak orang yang sederhana, tidak banyak polah tingkah. Saya baru sadar, dedikasinya sangat tinggi mendidik anak. Walau kami semua tidak memahaminya dengan baik. Sekarang bapak sudah meninggal. Tapi, saya sendiri masih ingat sebuah pagi bersama bapak.
Subuh itu, bapak mengumpulkan semua anak. Mengajak jalan ke Alun-alun. Kami berlima. Sesampai di Alun-alun, bapak membelikan kue rangin 3. Tapi harus dibagi 5. Bagaimana coba? Sudah tentu kami harus mengerti, menahan, mengolah soal emosi dan keinginan. Wejangan bapak mengalir deras. Beliau melingi, agar jangan rakus. Selalu berbagi dengan saudara. Dan yang selalu saya ingat adalah: seng sregep ledang-ledang kalau pagi.

Setahun setelah bapak kembali kepada Allah, wejangan bapak seperti pisau yang tajam. Menusuk ke ulu hati. Saya mengerti, kenapa bapak weling begitu. Karena memang di dunia ini tidak ada yang gratis. Bahkan manusia juga lahir di dunia karena untuk alasan ibadah kepada Tuhan.

Stephen Hawking, adalah fisikawan ateis. Salah satu pendapatnya yang kontrovesial adalah, sains yang didasarkan pada obesrvasi, maka dia akan mematahkan agama. Karena sains ini bekerja. Tapi, dia sendiri melupakan siapa yang membuat sains didasarkan obesrvasi itu? Bagi ateis, jantung manusia adalah kebetulan. Tapi mesin sepeda motor ada pencipatanya. Tentu saja pikiran jenis ini, adalah pikiran ngaco dan menyesatkan. Sehingga tidak bagus untuk diikuti.

Nah, disatu sisi saya teringat perjuangan saya tahun 2007 ketika mencari peluang bisnis, dengan berjualan pupuk tanaman. Tahun 2007 saya rutin berjualan di Gunung Dieng. Berangkat pagi, pulang sore, bahkan menginap di sana berhari-hari. Kadang, jualan sepi, kadang ramai. Satu hal yang membuat saya melakukannya adalah, saya percaya kalau saya bisa dapat uang. Dari apa? Dari usaha saya berjualan.

Hawking dan para ateis lainnya, menganggap surga dan neraka hanya dongeng bagi orang yang takut gelap. Saya pikir, hal ini bukan perkara besar. Karena sebagaimana ungkapan mereka, bahwa sains yang didasarkan pada obesrvasi akan menang melawan agama, tentu saja bagi yang percaya dengan teori tersebut. Maka, surga neraka juga hanya ada bagi yang percaya saja.
Wajar para ateis mengatakan begitu, karena mereka tidak percaya. Iman pun demikian, iman hanya untuk mereka yang mau meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan. Sudah. Titik. Jika mereka mau yakin dengan hati, tentu saja keberadaan Allah akan jelas. Namun bagi yang tidak percaya, dunia ini hanya kebetulan. Lalu kenapa harus memiliki aturan?
Pagi bersama bapak, meski sudah berlalu puluhan tahun lalu. Tapi membekas di benak saya. Dan sangat berpengaruh bagi hati saya. Bahkan sampai detik ini. Berkat bapak, saya tahu, bahwa hidup ini harus terus berproses.

Bahwa di dunia ini, ada banyak hal menarik yang bisa dilakukan. Ada banyak orang yang butuh dengan kita. Lalu kenapa harus putus asa? Atau patah hati dari kerasnya dunia. Atau dari tidak mulusnya jalan menggapai cita-cita?

Ah, pagi bersama bapak memang selalu menarik. Sekilas, sebuah ayat quran menyambar ingatan saya. Ketika mengingat wejangan bapak.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-ra’du:11)

Saya termasuk orang yang idealis. Tapi, saya juga masih bisa memahami, bahwa dunia ini terbagi dengan dua klasifikasi:

• Tujuan akhir
• Tujuan sementara

Tujuan akhir adalah kehidupan setelah kematian, seharusnya kita memahami dengan baik kondisi sekarang di dunia. Tujuan sementara kita adalah Cinta, keinginan dan nafsu, serta ambisi yang membelenggu bahasa singkatnya kesenangan. Semua itu akan membuat semakin betah dengan tujuan sementara.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca