by

Unconditional Love: God is Good

-Tausiyah-1,462 views

Seorang teman bercerita kalau ia baru saja ditolak oleh orang tua pacarnya. Nelangsanya lagi, ia dimaki oleh orang tua si cowok. Padahal, ia dan cowoknya sudah sepakat untuk menikah. Hanya karena si cewek dari keluarga pembantu, orang tua cowok memakinya tanpa ampun.

“Kamu itu miskin, melarat, kami orang kayak. Di mana otakmu?”

Dengan rasa prustasi tinggat tinggi, si cewek pergi. Persis dalam drama Indonesia tentang wanita miskin dengan kekasihnya cowok kaya. Padahal sejak kecil ia ingin belajar agama namun selalu saja bertemu dengan orang yang salah. Sehingga meski ia salat, ia tidak percaya pada agama 100 persen. Kejadian itu membuatnya untuk kesekian kalinya ia tidak percaya dengan agama. Tapi, kemudian ia mendapatkan pencerahan, bahwa God is good. Tuhan selalu baik. Salah satu nasihat saya adalah jangan menukar keyakinan, kalau ia yakin god is good.

Orang bijak berkata, “Jadilah orang yang berhasil, jangan jadi orang bergaul”, saya ungkapkan nasihat itu padanya, ia akhirnya mantap. Dan sadar, kalau Tuhan akan memberikan sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Pemberian Tuhan akan selalu tepat, dan tidak pernah meleset. Semua perkara, musibah, tidak akan datang begitu saja. Pasti ada hikmahnya. Inilah maksud God is good, salah satunya.

Saya sampikan pada teman saya, kesalahannya adalah melupakan soal kualitas. Dan hanya berpusat pada materi. Saya percaya orang yang belajar agama akan selalu baik. Padahal, mereka diberikan segumpah daging. Dan di sinilah semuanya dikendalikan. Dalam bahasa Indonesia, segumpal daging itu adalah hati. Meski arti sebenarnya adalah jantung. Bukan hati.

Saya dan Anda banyak orang melupakan, bahwa yang dijadikan tolak ukuran seseorang baik agamanya, adalah perpaduan antara ilmu pengetahuaan agama dan akhlak. Bukan hanya casing yang terlihat agamis. Di sinilah pangkal dari kekecewaan banyak orang. Sehingga, akhirnya kita menjadi benci kepada manusia jika akhlaknya tidak sama dengan pakaiannya.

Hati, itulah akar masalahnya. Saya terlalu percaya dengan materi, sehingga melupakan hati. Padahal, dalam hati inilah letak keyakinan, kebaikan, dan banyak hal.

 “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat, itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210.

Di sisi lain, seorang teman bercerita, ia mengalami stress berat. Sampai tidak bisa tidur, karena ia bekerja hampir 24 jam sehari. Tidur hanya dari jam 10 malam sampai jam 1 dini hari. Alasannya, dia sedang bersemangat untuk menuangkan ide dalam bisnis startup yang baru saja dibuat.  Padahal jika dia bisa mengendalikan keinginannya, dia akan lebih sehat. Misalnya membuka aktivitas dengan salat di sepertiga malam tersebut.

Harold Koenig, MD, profesor obat dan psikiater dari Duke, sekaligus penulis buku mega best seller, Handbook of Religion and Health, mengatakan, ibadah bukan hanya memiliki efek ilahiyah, namun kesehatan lahir dan batin. Karena orang yang lebih dekat kepada Tuhan, ia memiliki cara tersendiri untuk lepas dari ingar bingar dunia.

Tuhan selalu baik dan benar. Mengenal Tuhan dengan baik, justru akan menjadi lebih baik. Penelitian ilmiah pun menunjukkannya. Koenig membuktikan, bahwa gerakan dalam salat, bukanlah gerakan biasa atau bahkan sia-sia. Psikiater Amerika Fidelma, dan banyak lagi ilmuwan barat membuktikannya.

Bagaimana Tuhan, tergantung dari cara kita memandang, kok. Kalau kita memandang Tuhan jahat. Maka akan jahat. Kalau kita memandang baik, ya jadinya baik. Dan kuncinya adalah pada hati. Karena jika baik hati, semuanya akan baik, jika buruk semuanya akan buruk.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Penelitian tentang ini, ternyata bukan cuma pada spiritual saja. Namun pada baik, dalam arti kesehatan. Sayangnya, saya tidak ahli dalam menjelaskan. Tapi saya pernah mengikuti sebuah kajian tentang hadis di atas, dengan pemateri seorang ahli pengobatan klasik.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca