by

Unconditional Love: Kisah Gajah dan Belenggu Cinta Orang Tua

-Tausiyah-48 views

Sebuah video beredar dan menjadi viral di media sosial. Isinya adalah penggerebekan polisi, di sebuah apartement. Dari keterangannya sih, video itu di Cina. Yang membuat tercengang, ternyata di balik tembok apartment ada uang hingga ratusan miliar. Konon katanya, uang itu hasil korupsi seorang pejabat di sana. Berita ini dimuat tribunnews.com Medan pada Kamis (18/01/2018) dengan judul “VIDEO: Warganet Dikejutkan Penemuan Uang Rp 128 Miliar Disembunyikan di Balik Dinding Apartemen“

Saya mengira, hanya di Cina. Tapi, ternyata di Indonesia pun ada kejadian sama. Seorang ketua Mahkamah Konstisusi Indonesia, menyembunyikan 128 Miliar uang cash di tembok ruang karaoke. Edan!  Usut punya usut, ternyata uang tersebut hasil korupsi dari urusan sengketa Pilkada Kotawaringin Timur. Miris bukan? Si ketua MK, tentu saja ingin bermain cantik. Menyembunyikan di balik dinding. Namun, ambisinya mengalahkan segalanya. Dan sebaik-baiknya kejahatan disembunyikan, tentu akan tercium juga baunya.

Padahal gaji seorang pejabat MK tidak sedikit. Dari sebuah berita online, saya menemukan kisaran gaji seorang Hakim yang menjabat ketua MK adalah 100-an juta perbulan. Bahkan ada yang menyebut 121. Belum lagi tunjangan, belum lagi soal ini dan itu. Kenapa bisa begitu?

Kenapa ya bisa begitu?

Untuk menjawabnya, saya ada sebuah cerita untuk Anda. Begini, beberapa tahun lalu, ada sebuah kebakaran hebat di Thailand. Kebakaran itu mengakibatkan puluhan gajah mati terbakar. Tentu saja kita akan bertanya mendengarnya, kenapa bisa? Padahal gajah kan, gede dan seharusnya dia bisa menabrak apapun untuk menyelamatkan diri.

Jadi kronologisnya begini. Ketika terjadi kebakaran, gajah yang sejak kecil diasuh oleh pawang, sedang di dalam kandang. Ia dirantai dan juga diikat dengan tambang. Karena sudah puluhan tahun begitu, maka sang gajah sudah paham, kalau rantai dan tambang dilepaskan, berarti dia bebas dan bisa lari. Kalau Cuma salah satu, artinya belum boleh lari.

Gajah yang menjadi hewan suci Thailand tersebut. Ketika terjadi kebakaran hanya dilepas rantai, tambangnya belum. Alhasil, sang gajah mengira ia tidak boleh lari. Meski api membesar, ia hanya diam dan matilah puluhan gajah tersebut. Anda bisa memahami kenapa sebab sang gajah mati? Pola pikir. Benar banget.

Sejak kecil sang gajah sudah ditanamkan keyakinan, bahwa dua ikatannya adalah belenggu dirinya. Kalau lepas salah satu, maka belum bebas. Jangan lari. Kalau lepas keduanya, ini baru boleh lari. Bahkan, karena belunggu pola pikir sang gajah akhirnya mati. Miris, sangat mengenaskan. Koruptor pun begitu. Padahal dia bukan orang bodoh. Tidak sedikit yang bergelar profesor, namun ketika menjabat dia hancur karena pola pikir yang salah.

Sama dengan keluarga. Saya ingat dengan pola pikir yang ditanamkan bapak saya. Saya sendiri, tidak bisa mengingat pasti apa yang bapak saya ajarkan dari kecil. Hanya saja, yang paling saya ingat adalah sikap keras bapak. Salah satunya mendidik untuk rajin salat dengan pukulan. Sekarang, setelah 30 tahun lebih saya baru merasakan manfaatnya. Dan saya merasa beruntung, dengan semua pola pendidikan tersebut.

Jika bapak begitu keras, emak sebaliknya. Suatu ketika, saya meminta izin untuk merantau ke Jakarta. Emak menangis, dan mengatakan, “Ngga usah jauh-jauh. Di sini saja emak bisa kasih kamu makan”

Kira-kira orang tua Anda begitu tidak?

Anak memang wajib berbakti pada orang tua sampai kapanpun. Bahkan ketika ia sudah jadi orang tua. Apalagi anak lelaki. Islam tidak mengenal putus berbakti. Namun kitalah yang kemudian memutuskannya. Biasanya karena sudah sibuk dengan keluarga, anak, kemudian kita merasa orang tua hanya gapura kita menuju ke dunia.

Nah, jika begitu apakah orang tua cukup diberi uang atas jasanya? Indonesia begitu lekat dengan budaya kerja. Sayangnya kita lupa budaya mandiri, sehingga cinta orang ibu bisa membelah gunung dan menjadikan lautan tergoncang. Ya, karena ibulah yang biasa memiliki cinta kasih lebih besar daripada ayah.

Ibu yang akan berkata tidak tega, ketika anaknya mulai besar dan akan mencoba mandiri. Jangankan traveling ke luar negeri sendirian, ketika anak gadisnya masuk ke pesantren sang ibulah yang akan menangis tersedu. Bukan bapak. Hati wanita memang lembut bagai kapas!

Indonesia, dan negara lain di Asia Tenggara adalah negeri yang metode pendidikannya berbasis otak kiri. Artinya, menghafal adalah sebuah kewajiban buat anak didik. Saya sendiri mendapatinya ketika aktif dialog dengan member penulisan, yang kebanyakan para guru. Bahkan ketika mengisi sebuah acara di sekolahan.

Acara workshop menulis cerpen dan puisi. Bahasa Indonesia, mengarang bebas atau pelajaran membuat cerita tentu saja sudah diajarkan jauh hari di bangku pendidikan. Namun, di hari pertama saya mengisi workshop membuat puisi dan cerpen untuk anak, saya tidak mendapatkan bekasnya sama sekali.

Lalu di mana pelajaran yang sudah diberikan guru selama ini?

Saya coba membedahnya. Pertama kali, saya suruh anak membuat puisi. Asal saja, tidak usah berfikir macam-macam. Hasilnya zonk. Memang tidak ada. Hari kedua, saya berikan penjelasan dan contoh. Tapi, saya tidak katakan harus ada ini dan itunya. Melainkan, kalian kesal? Jengkel? Silakan tuang dalam puisi. Hasilnya, menarik. Sudah mulai tertata. Hari ketiga, mulai bagus. Hari keempat juga semakin bagus.

Lalu apa masalahnya? Masalahnya adalah pada metode mengajar. Yang seperti ini, sama dengan perilaku orang tua kepada anaknya. Ketika kecil, orang tua begitu mencintai sang anak. Karena anak adalah harta paling berharga. Sayangnya, orang tuapun membelenggu anak dengan cinta.

Yap, cinta kasih orang tua seringkali menjadi belenggu. Jika belenggunya syariat islam itu bagus. Namun orang tua justru sering melupakan syariat demi cintanya pada anak. Alhasil anaknya pun bebas. Tanpa kenal agama. Banyak banget cerita seperti ini. Yah, karena memang sudah dikatakan oleh Allah, kalau anak akan menjadi musuh. Artinya musuh karena cinta bukan musuh sebenarnya.

Untuk kalian para wanita, coba deh renungkan. Mana yang lebih dominan pada diri kalian; perasaan (baca: cinta) atau logika dan dalil ilmiah?

Profesor Reynald Kasali mengisahkan, perilaku over protektif orang tua dari mahasiswa dan mahasiswinya. Kebanyakan dari orang tua, menginginkan anak hidup enak. Bahkan, ketika ada tantangan ke luar negeri, para orang tua mahasiswa pada bingung. Padahal sang anak ingin ke luar negeri dengan biaya nol. Tidak sedikit yang harus bertengkar dulu dengan orang tua.

Bahkan, salah satu semboyan orang tua adalah, “Kami menderita ngga papa, asal anakku jangan.” Tapi apakah anak yang terdidik dengan fasilitas akan bahagia di hari depan?

Pada tahun 2014, jagat Indonesia digemparkan dengan berita tentang bekas dosen mau bunuh diri. Ironisnya, bunuh dirinya dengan cara meminta izin ke Mahkamah Konstistusi. Iya, namanya Ryan Tumiwa. Seorang lelaki berusia 42 tahun. Bekas dosen, yang kemudian ingin mati saja, karena kesulitan mencari kerja. Padahal indeks prestasi kumulatif di kuliahan 3 koma sekian. Dan dia juga lulusan S-2 sebuah kampus ternama di Indonesia.

Lalu kenapa dia ingin bunuh diri, karena susah mencari kerja? Menurut penuturan tetangganya, semua kekacauan hidupnya disebabkan orang tuanya meninggal. Dan akhirnya, dia stres. Sebenarnya, peristiwa depresi dan kacau karena tidak ada orang tua, bukan Cuma terjadi pada Ryan. Namun juga pada banyak sekali anak di belahan dunia ini.

Orang tua hanya ingin anaknya bahagia. Namun, tidak peduli prosesnya. Orang tua hanya peduli anaknya makan, tanpa mau memikirkan cara sang anak mengunyah makanan. Beberapa waktu yang lalu, bahkan ada sebuah kisah mengejutkan dari negeri Paman Sam. Seorang gadis dipaksa, dan diubah menjadi pesakitan oleh sang ibu. Tujuannya, karena sang ibu tidak mau anaknya jauh darinya. Sebab, sang ibu meyakini anaknya akan nelangsa. Namanya Kaylene Bowen-Wrigh (34). Ibu asal Texas, Amerika Serikat.

Semua kepiluan ini terbongkar, karena sang anak kemudian membunuh ibunya. Pembunuhan itu terjadi dengan perencanaan yang matang bersama sang pacar. Di sisi lain, ada David Tourpin di Califonia, Amerika Serikat. Ia ditangkap kepolisian setempat bersama sang istri, atas tuduhan merantai 13 anaknya. Dan membuat mereka sakit, demi tidak ingin mereka semua menderita di luar rumah.

Cinta berlebihan dari orang tua, benar-benar membuat anak menderita. Padahal, Tuhan menitipkan mandat kepada orang tua, untuk membuat anak menjadi sedemikian rupa. Sayangnya, banyak orang tua yang merantai anak dengan belenggu cinta dan kasih sayang. Ya, wajar sih, karena sifatnya manusia dasarnya suka dengan perhiasan. Dan anak, kan, perhiasan dunia.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali-imran: 14)

Akibatnya, sang anak mengubah keyakinan. Sejak kecil, ia yakin, kalau dirinya akan hidup jika ada orang lain. Sejak kecil, dia sudah meyakini bahwa kehidupan adalah makan enak, dapat jatah uang tiap bulan. Dan…. Dan…. Dan. Anda sendiri sudah tahu pastinya. Peristiwa change believing, ini sangat umum dan sudah sangat lazim di kehidupan dunia. Ryan Tumiwa, hanya 1 di antara sekian banyak anak yang dibelenggu dengan cinta. Memang enak, tapi bukan di masa depan.

Dalam ajaran agama islam, berdagang lebih baik daripada bekerja ikut orang. Dan anjuran mengajarkan anak berdagang, menjadi perintah dalam agama islam. Bahkan, ada sebuah peristiwa kelam. Seorang anak pemimpin Islam, di masa lalu, menjadi pengemis setelah kedua orang tuanya meninggal. Sebenarnya, soal pola pendidikan ini bukan hal baru. Sudah sejak puluhan tahun yang lalu, Indonesia mengalaminya. Sekian banyak orang mencoba mengubah, belum ada hasil. Profesor Ng Aik Kwang, sekarang tinggal di luar negeri. Beliau asli Thailand.

Profesor Ng Aik Kwang mengatakan, penyebab utama bangsa Asia tidak bisa meraih nobel, di antaranya karena pendidikan. Metode pendidikan terlalu berat dan berhaluan kiri sekali. Sehingga, mudah sekali bangsa Asia menang Olimpiade, namun tidak ada yang mendapatkan hadiah nobel. Inovasi dan kreasi rendah.

Di Indonesia, factor utama pengangguran berjubel, sebenarnya bukan karena minimnya lapangan kerja. Namun buruknya etos dan attitude manusianya dalam mencari penghasilan. Selama berkarir menjadi penulis buku, saya sendiri kerap ditanya orang, “Apa pekerjaanmu?”atau, “Kerja di mana kamu?”

Suatu ketika, saya menjawab, kerja dari dalam kamar dengan media internet. Mereka tertawa terbahak-bahak, mengatakan, “Kerja ya keluar. berangkat pagi pulang petang. Pakai seragama. Kalau gitu bukan kerja.” Lihatlah, betapa minim intelektual mereka. Dan betapa minim mereka menghargai proses. Jadi definisi orang kerja di Indonesia adalah, “Memakai seragam. Berangkat pagi, pulang petang. Tiap bulan gajian.” Itulah yang disebut orang yang bekerja, menurut sebagian orang di negeri ini.

Jika kerja dari dalam rumah, terima gajian lewat rekening. Dan tidak pakai seragam apalagi keluar pergi pulang senja, ini bukan orang yang bekerja. Bekerja harus terlihat, begitu menurut mereka. Lalu, sebutan apa yang pantas disematkan bagi kaum milenial, yang bekerja tanpa kantor? Yang pusat kantornya di Singapura, sedangkan mereka ada di Jakarta. Lagi dan lagi, kita semua itu masalah pola pikir.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca