by

Unconditional Love: Mengapa Manusia Hanya Percaya Harta?

-Tausiyah-24 views

Seorang teman guru tinggal di Banjarnegara pernah bercerita, ada seseorang yang begitu rakus dengan duit. Sehingga, dia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Orang seperti ini terjebak dalam ambisi. Saya tercengang dengan nasihatnya. Meski sederhana namun menusuk.

Selama ini, sedikit yang paham dengan ambisi. Apalagi keburukannya. Ambisi dalam KBBI artinya hasrat, keinginan atau nafsu yang besar dan kuat untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Sehingga, ambisi adalah bentuk amalan hati.

Harta tidak dibawa mati, tapi harta menentukan mati. Maksudnya begini, di Cina, seorang koruptor ditembak mati. Kenapa? Karena ambisi pada harta. Di dalam Islam, seorang pencuri dipotong tangannya. Di belahan dunia lainnya, sama. Hanya di Indonesia pencuri dalam jumlah besar, mendapat apresiasi sedang pencuri dalam jumlah kecil mati digebuki.

Ada satu hal yang selalu dipikirkan oleh manusia selama 24 jam. Iya, bahkan demi tujuan itu mereka rela tidak tidur, sakit, menempuh perjalanan jauh. Padahal yang dipikirkan ibarat pisau bermata dua. jika tepat menggunakannya akan bermanfaat jika salah akan mencelakai. Dia adalah duit. Iya, bahkan mereka lupa, kalau rezeki adalah bentuk jamak bukan tunggal. Mereka mengira yang disebut rezeki adalah duit saja.

Demi duit mereka rela pergi jauh, sakit, tidak tidur dan juga memusuhi sudara. Duit memiliki energy positif dan juga negative. Namun orang lebih banyak terkena energy negative. Tidak heran sih, jika saja manusia mau menginsyafi semua ujian tersebut maka ia akan sadar tujuan hidupnya bukan untuk senang-senang.

Tapi manusia lebih senang mengikuti kata hati, meski berlawanan dengan kata Allah dan kata Rasul. Sejak Anda menyatakan beriman kepada Allah atau ketika Anda lahir di dunia ini, konsekuensi sudfah hadir. Konsekuensi tersebut adalah ujian dari keimanan pada Allah.

Dalam kitab suci Alquran disebutkan,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-ankabut:2-3)

Ujian hanya diperuntukkan orang yang beriman. Ketika Anda sekolah Anda mendapatkan ujian, banyak sekali. Dan jika Anda bisa mengerjakan ujian tersebut akan dinyatakan lulus. Kalau tidak, harus mengulang.

Bahkan, skripsi, tesis, disertasi menjadi tugas akhir atau ujian akhir dari kampus. Tapi sedikit sekali yang menyadari bahwa ujian ada untuk kenaikan tingkat. Saya ingat, ketika SD kelas 1, saya lebih suka belajar pelajaran kelas 2, dan seterusnya.

Maka, nilai saya selalu buruk. Tapi, saya paham soal pelajaran yang ada. Metode ini membuat saya lebih paham soal pelajaran atau materi yang dibahas. Nilai sih memang jelek. Metode pendidikan berbasis hafalan dan urutan, dianut penuh fanatisme di Indonesia.

Jika dibandingkan, tentu saja orang Indonesia, Asia Tenggara beda banget dengan orang barat. Di Amerika, anak usia 14 tahun sudah bisa menciptakan program computer. Mendaftar kerja di perusahaan teknologi kelas dunia seperti Google, IBM, bukan labeling (baca: ijazah), tapi kreativitas.

Anda tidak percaya dengan penuturan saya? Saya berikan buktinya.

Begini. Max Roset adalah seorang software enginer. Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil, di Amerika Serikat. Namun, suatu pagi dia Googling, karena ingin mencari rujukan untuk projek barunya. Nah, apa yang terjadi? Hasil pencarian seperti biasa. Tapi ada yang aneh, salah satu hasil ada link warna biru mencolok.

Max mengklik link tersebut. Tiba-tiba, halaman terbelah menjadi dua. Dan ada beberapa pop up berupa tantangan menyelesaikan tugas. Meski hanya iseng, Max Rosset menjawabnya, sebenarnya diberi waktu 2 hari, tapi ia bisa menyelesaikan dalam waktu singkat. Nah, ajaibnya, ia kemudian diminta mengirimkan kontak, karena Google akan menghubunginya.

Sekarang, dia bekerja di Google. Bukan karena ijazah. Tapi karena kreativitas yang dimilikinya dalam mengerjakan tantangan. Cerita ini dilansir News Softpedia, Jumat (28/8/2015). Lalu apakah Google bertanya, “Apa ijazahmu? Berapa nilai IP kamu?” Satu-satunya bekal Max diterima di Google hanya kreativitas dia memecahkan tantangan.

Saya membaca laporan dari situs Linkedln pada tahun 2016, yang menyebutkan, salah satu tip diterima kerja di Google ada 8. Mayoritas, dari tips tersebut bukanlah nilai. Tapi otak, artinya kreativitas dibutuhkan pertama dan utama.

Saya memikirkan kenapa manusia butuh harta, dan kenapa manusia selalu memikirkan harta sejak kecil. Entah data tahun kapan, tetapi saya sendiri merasa pernah mendengar dan membaca, di Indonesia mayoritas pengangguran bukanlah yang tidak sekolah. Tetapi justru sarjana.

Penyebabnya pendidikan yang mereka tempuh lebih banyak membawa ke dunia karyawan. Bukan bos. Sehingga orientasi mereka ketika lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana adalah: mencari kerja. Bukan menciptakan kerja. Faktanya, negeri ini memang memanjakan ambisi manusia merendahkan proses.

Sanawi mungkin hanya seorang anak buta huruf. Akan tetapi dia berhasil menciptakan asset melebihi seorang sarjana kelas atas. Dia memulai sebagai seorang buruh di Kalimantan. Keberaniannya mengambil peluang sangat menarik.

Bermula dari berjualan es krim keliling, kini ia mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki pendapatan sebulan 500 juta. Tapi faktanya Sanawi bukanlah sarjana. Hanya seorang anak kampung yang ingin berubah. Kemudian mencoba mencari peluang. Kisah suksesnya diunggah pada majalah peluang usaha pada Selasa 05 September 2017 dengan judul Sanawi Sukses Berkat usaha es krim.

Kisahnya pun unik setelah lulus sekolah, ia berusaha mencari pekerjaan dengan modal ijazah ala kadarnya. Semuanya menolak. namun ia orang yang mudah menyerah, mudah sedih, mudah minder. Tidak berhasil di kampungnya ia merantau ke Jakarta. Dari Jakarta ke Kalimantan. Kisah mengenai dirinya pernah dikupas di acara Kick Andy juga.
Berapa banyak lelaki, yang penghasilannya puluhan juta. Bekerja hanya 1-5 jam sehari. Tapi istri dan anak kelaparan. Betapa banyak orang yang mengubah kepercayaan, mengubah diri, menyiksa hati demi uang 100 atau bahkan 500 ribu saja.

Anda memang butuh harta, tapi tidak harus menggunakan setiap waktu mencari harta. Jadi, satu-satunya cara terbaik untuk menghindari gila harta, dan akibatnya hanya dengan driving your heart.

Bisa jadi, kita termakan omongan, bahwa harta hanya titipan. Bisakah Anda cek, teliti lagi:

1. Berapa jam dalam 1 minggu Anda berfikir soal harta?
2. Berapa tahun Anda kerja keras sampai lupa tidur?
3. Berapa banyak dalam sehari Anda berfikir soal duit?

Saya sendiri pernah mengalami kebuntuan pikiran akibat sumpek membangun usaha. Sekitar 2009 sampai 2011 saya bangun usaha kuliner lalu gagal. Dan tahun 2013, sebuah hadis menyadarkan saya soal harta.

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)

Saya sendiri, mulai awal tahun 2013, tidak ingin ngoyo cari duit. Maksudnya, mengubah orientasi. Jika dulu 24 jam yang dipikirkan cara menaikkan omset, cara ini dan itu, pokoknya seputar harta dan harta. Sekarang saya ubah. Begini gambarannya.

Sehari ada 24 jam. Jika dulu, saya kerja mulai jam 3 pagi, sampai jam 10 malam. Bahkan kadang jam 12 malam. Sekarang saya kerja jam 8 sampai jam 12 siang atau jam 2 sore saja. Setelahnya saya gunakan untuk ibadah, baca buku, sosialisasi di kampong dan teman. Ini aktivitas harian saya sekarang.

Aktivitas Mingguan, saya sediakan 2 sampai 3 hari untuk Allah. Saya bekerja, tapi yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Saya punya komunitas menulis dengan Nama Hijraa Writing Center di kota Banjarnegara. Biasanya, 2 hari tersebut saya habiskan untuk diskusi, dan mengajarkan ilmu menulis buku kepada member komunitas saya.

Berbeda dengan sebelumnya, ketika saya membagi seperti di atas, saya merasakan keberkahan uang lebih nyata. Jika dulu, uang 10 juta sedikit, kecil. Didapatkan dengan kerja hampir 24 jam. Sekarang uang 1 juta, bisa sangat nikmat. Bahkan, dengan membagi begini, saya merasakan pendapatan jadi lebih baik lagi.

Sehausnya ketika mencari harta Anda lebih bisa mengendalikan hati. Tidak lagi percaya kepada harta 100 persen. Karena ternyata, manusia terlalu berambisi dengan harta. Makanya, terlalu percaya padanya, dan menjadikannya orientasi hidup.

Switching ini, tentu saja mengubah hidup Anda. Sebab, dari menyalahi menjadi sesuai aturan. Apa yang Anda lakukan sebelumnya, tentu saja ini menyalahi aturan dari Allah, yang tertera dalam kitab suci Alquran berikut;

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-dzariyat: 56)

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca