by

Unconditional Love: Mengerti Agar Dimengerti Begitulah Seharusnya

-Tausiyah-27 views

Ada teman akrab saya. Sejak usia 22 tahun bekerja keras cari pasangan hidup. Berusaha siang malam mencari pendamping. Tapi selama itu ia temukan kekecewaan. Kalau tidak ditolak, ia menolak. lalu terlintas dalam benaknya, “Kenapa saya selalu gagal?” apakah ia tidak layak mendapatkan pendamping? Ia mengoreksi diri dengan yang ia lakukan, kemudian menghasilkan kesimpulan:

  • Terlalu muluk-muluk dalam kriteria
  • Terlalu ingin dimengerti orang, bahwa ia menikah karena agama
  • Ia terlalu memaksa orang lain memahami keinginan
  • Ia terlalu ini
  • Ia terlalu itu
  • Ia terlalu bla.. bla blaa

Semuanya karena keterlaluan. Memang sangat keterlaluan. Ia ingin punya suami hafal quran, sedangkan dirinya baca alquran terbata-bata. Ia  ingin punya pasangan hafal kitab sohih bukhari muslim, ia membaca hadis saja tidak pernah. Ia ingin punya pendamping salatnya tekun, dirinya salat jamaah saja tidak pernah, bahkan salat di akhir waktu. Ia  ingin istri yang kaya, minimal s-1, ia hanya berijazah SMA. Menyedihkan sekali. Pantas saja, ia selalu kecewa.

Sebab, seorang yang hafal quran, biasanya akan mencari yang hafal quran juga, kenapa? Untuk menjaga hafalannya. Seorang yang kuliahan, kadang mencari yang sama-sama kuliah, kenapa? Soal persamaan cara berfikir, meski tidak semua begitu. Orang yang hafal sahih bukhari, biasanya akan mencari yang semisal atau lebih baik.

Faktanya, teman saya mencari malaikat. Setelah mengalami pergulatan batin. Dan nasihat ia memutuskan untuk menurunkan, bahkan obral agar lekas dapat jodoh. Nah, sekian tahun berlalu belum dapat juga. Pada bulan Januari tahun ini, ia sempat dilamar anak Kuningan, Jawa Barat. Semua sudah oke, dan sudah siap. Tapi gagal karena hal sepele. Saya yakin, ini bukan dari kesalahan teman saya, Karena pihak wanita yang memulai. Kecewanya minta ampun.

Sebuah kenyataan membuat bingung. Dua bulan setelah gagal, teman melihat seorang dalam imajinasi, karena teman saya novelis, maka ini wajar. Tapi, ia benar-benar mendapatkan cirri-cirri gadis dalam imajinasinya di sebuah akun Facebook. Ternyata, dia anak dari member grup menulis, di kota Banjarnegara. Dan entahlah, Allah begitu mendukung. Semua kata hati saya terwujud.

Suatu malam, di hari Kamis, sang ibu bertanya, begini dialognya,

“Maaf, ibu mau Tanya. Tapi takut menyinggung.”

“Memang Tanya apa, buk?”

“Nuwun sewu. Apa Anda tertarik dengan anak saya?”

Jantung di dalam dada berdegup lebih kencang. Gadis imajinasi sudah di depan mata. Saya menjawab begini,

“Iya, buk. Saya memang tertarik. Tapi, maaf, saya mencintainya, sehingga saya ingin menikahi bukan memacari.”

Si ibu bertanya, “Beda ya?” ia kira ini jebakan. Namun karena sudah mantap, ia menjawab dengan kemantapan, meski hati minder.

“Beda buk. Jika mencintai, tentu akan memuliakan, jika hanya mengagumi, tentu saja hanya memujaa dan memuji.”

Kata si ibu, “Tapi anak  ibu begini dan begitu ( baca: penuh kekurangan)

“Bu, karena saya mencintai, maka saya akan mencoba memahami, mempelajari karakter beliau sepanjang usia, agar kelak bisa sehidup sesurga.”

Saya menjeda, karena haru dengan kisahnya. “Pernikahan, adalah berkumpulnya dua kekurangan menjadi satu, untuk mewujudkan kebahagiaan bersama.” Anda tahu bagaimana akhlak sang ibu? Jika anaknya bersalah, beliaau memaafkan. Jika bicara soal sedekah, beliau menyediakan, jika bicara soal larangan dalam agama, sang ibu menjalankan. Beliau sangat mendukung keinginan semua kegiatan teman saya, mengajarkan agama jika sudah menikahi. Dan jika saya ini dan itu….

Aih, teman-temannya tertawa ngakak saat saya cerita soal ini. Katanya, “Kamu mau menikahi ibunya atau anaknya?” Sesingkat mungkin jawaban dilontarkan jawaban, “Jika ibu baik, anaknya pun insyaa Allah baik.”

” Tidak sempurna Iman seseorang sehingga ia mencintai saudaanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. ”[HR Bukhari dan Muslim]

Menurut Ibnu Rajab Al-Hambali, hadis di atas maksudnya, “Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:305).

Jika pernikahan disadarkan kepada usaha memahami orang lain tentu saja akan banyak manfaatnya. Namun umumnya orang lebih suka jika diperhatikan. Kisah di atas sebenarnya memiliki pelajaran penting untuk kita. Si ibu yang begitu baik, dan mau mengerti kebutuhan orang lain. Makanya setelah memastikan orang yang naksir anaknya bagus akhlak dan agama, tanpa malu lagi beliau membantu.

Menurut pakar komunikasi Oh Su Hyang, rumus sukses menjalin komunikasi sebenarnya hanya 1: mengerti orang lain. Baru akan dimengerti. Bahkan negosiasi tingkat tinggi  pun success keynya adalah mendengarkan. Titik.

Makanya jangan sampai lupa diri. Saya sendiri, termasuk orang yang sering lupa diri. Sering menempatkan diri, pada posisi dibutuhkan. Sehingga, saya perlu menghafalkan hadis di atas. Bahkan harus memahami makna yang dikandung dalam hadis tersebut. Memang, tidak serta merta saya bisa mengubah diri. Tetapi, minimal, saya paham bahwa perbuatan mengerti orang lain memiliki banyak manfaat. Baik dari segi:

  1. Psikologis
  2. Kelapangan rezeki
  3. Cinta Allah
  4. Ketinggian akhlak
  5. Kekuatan intelektual yang tinggi

Di sisi lain, masyarakat mengenal seorang suami yang keras, egois. Bahkan tidak sedikit suami membalikkan keadaan. Dari suami pemimpin rumah tangga, menjadi suami bos rumah tangga. Karena, kerja si suami hanya makan, tidur, ngomel. Dan minta dinafkahi istri. Apa menurut Anda suami seperti ini tidak ada? Banyak.

Tahun 2009, seorang teman ingin menikah. Kebetulan dia adalah murid saya. Saya berusaha keras mencarikan. Tidak sampai 1 tahun, dapat. Dan menjelang pernikahan, dia datang kepada saya meminta wejangan soal rumah tangga. Tentu saja, permintaan ini sangaat sulit saya penuhi, sebab saya sendiri belum menikah, tapi dimintai wejangan soal itu.

Mbak Asih memaksa. Lalu, saya, “Wejangan seperti apa mbak?”

“Seperti yang Abu tahu, saya tidak mengenal calon suami. Hanya beberapa kali ketemu, kemudian saya menikah. Saya takut, tidak bisa menerima kekurangan dirinya nanti, kalau sampai ada kekurangan yang mencolok. Saya takut kufur”

Mendengarnya, saya memutar otak. Satu sisi, saya salah. Tapi pertanyaannya sih mudah dijawab dengan ilmu. Nah, terlintas kisah seorang alim di zaman dulu.  Dan kisah itu, saya sampaikan kepadanya.

“Mbak, kalau soal menerima kekurangan pasangan dengan baik. Tentu ini wajib. Karena nikah, adalah wujud dari bersatunya dua kekurangan jadi satu. Sampean tahu kan?” Mbak Asih mengangguk.

“Kalau maksud sampean adalah soal menumbuhkan cinta, saya ingat kisah seorang alim. Mau dengar?” dia mengangguk.

“Jika nanti sudah masuk ke malam pertama, ajak suami bicara. Lalu sampaikan yang tidak sampean sukai dari suami, dan yang sampean suami. Contohnya begini;

  1. Saya tidak sukai jika suami cerita masa lalunya
  2. Saya tidak suka jika suami cerita mantan pacarnya
  3. Saya tidak suka dianggap sebagai asisten saja
  4. Saya tidak suka suami, tidak bisa mengambil keputusan
  5. Saya tidak suka…
  6. Saya tidak suka….
  7. ……………………….

Yang disukai:

  1. Saya suka jika suami selalu tersenyum jika ketemu saya
  2. Saya suka jika suami memperlakukan orang tua saya seperti orang tua sendiri
  3. Saya suka…..
  4. Saya suka……..

Wejangan ringkas itu, dipraktekkan. Dan sampai saat ini, hampri 8 tahun tidak ada perkara yang tidak bisa diselesaikan oleh pasangan itu. Ini menurut penuturannya sendiri. Karena suami mencoba mengerti istri, istri mencoba mengerti suami begitu seterusnya. Kerja sama antar manusia, baik di kantor, rumah tangga, masyarakat.

Atau kerja sama antara pemerintah dengan rakyat terjalin kuat dan bagus, jika menanamkan prinsip, “Mengerti orang lain, agar aku dimengerti”. Dengan konsep itu, kita sendiri jauh dari kekecewaan. Karena, kita selalu berusaha meminimalisirnya dengan mengendalikan ego yang datang.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca