by

Unconditional Love: Semua Keadaan Sama, Sampai Akhirnya Kita Bertemu

-Tausiyah-22 views

Karena jika ego tidak dikendalikan, hati yang akan bermasalah. Dia akan rusak. Dan jika sudah rusak, kita akan terserang 2 model penyakit; medis dan non medis. Kalau penyakit medis, terlihat. Anda bisa datang ke dokter. Tapi non medis?

Dalam sejarah Islam kita kenal nama Abu Jahal. Jahal artinya bodoh. Pertanyaanya apakah dia seorang yang otaknya idiot atau semisalnya? Bukan. Dia di kalangan kaum mussyrikin dikenal orang paling cerdas. Dia juga paham kalau islam itu benar. Tapi dengki dan sombongnya membuat dia menolak islam sebagai agama yang benar.

Rasulullah menjulukinya sebagai bapaknya kebodohan atau Abu Jahal. Padahal, apa yang membedakan? Semua keadaan sama, sampai akhir kita bertemu. Bertemu di padang mahsyar. Semuanya kembali kepada asal penciptaanya. Telanjang, tanpa sehelai benangpun. Lalu kenapa kita merasa lebh tinggi derajatnya daripada orang lain? Bisa jadi karena kita sekolahnya S-2 di Amerika. Atau bisa jadi kita punya mobil 2, istri cantik, anak menurut.

Penyakit dengki, hasad, dan aneka penyakit hati ini menjangkiti bukan cuma kalangan yang sibuk mencari dunia. Kalangan orang yang disebut ustaz, penulis, dan lainnya juga sama. Sejarah dunia islam mencatat, tersebarnya agama ini salah satunya karena pedagang yang melakukan perjalanan sambil dakwah.

Eropa di masa kegelapan mengadopsi budaya islam dalam jumlah sangat banyak. Salah satunya, ada patung Bunda Maria dan bertuliskan kalimat La Ilaha Ilallah di sekelilingnya. Tentu saja, bagi yang tidak paham, akan geger. Bisa jadi Bunda Maria adalah islam. Ya, kalau dirunut secara urutaan agama samawi, Bunda Maria seorang muslimah. Karena dia adalah Mariam, seorang wanita suci.

Tapi fokus bahasan bukan di situ. Ternyata patung yang ada di Austria tersebut adalah efek dari kebudayaan islam yang mengakar dan berpengaruh di Eropa zaman dulu. Dan tulisan arab tersebut disebut Pseudo Kuffic. O, ya, saya pernah membaca dan menonton dalam film Indonesia. Kalau tidak salah judulnya 99 Cahaya di Langit Eropa.

Andai kehidupan adalah sebuah warung makan, kita hanyalah orang lewat yang mengisi perut. Setelahnya, sudah. Pergi. Entah kapan kembali lagi, bahkan bisa jadi tidak. Pikiran terdalam saya soal ini, dan menjadi koreksi diri adalah, “Apa bekal dalam perjalanan meninggalkan warung makan tersebut?” jadi, kalau sudah makan di warung, lalu pergi apa kita butuh bekal lagi? Tentu saja butuh. Tapi, kita selalu salah dalam menafsirkan kebutuhan tersebut. Skita kira, kebutuhan itu adalah makanan juga. Sehingga kita sering mengisi perut sampai penuh.

Wajar kalau kemudian kita merasa begah. Tidak enak di perut. Jalan juga aih, tidak bisa panjang. Karena salah dalam memersepsikannya.  Karena kita hanya berfikir makan, makan, makan. Puaskan dulu makan. Baru pergi. Alhasil, makanan yang timbun di perut bukan jadi bekal, tapi jadi penyakit dan juga mengakibatkan kegemukan.

Anda tentu merasakannya sendiri. Kita, dan semua manusia di atas muka bumi ini selalu tertipu dengan semua hal berbau cash.

Sekarang kiota harus akui saja, kita lebih suka mengisi makan di perut, kalau tidak kita membawa makanan dalam perjalanan. Padahal dua kondisi tersebut akan membuat makanan jadi masalah utama dalam plesiran yang ada. Tahun 2007, saya masih menjadi petualang. Sebulan sekali ke Jakarta untuk kulakan bahan laundry. Karena waktu itu, belum banyak yang jual.

Ibu saya, orang yang paling takut anaknya kelaparan. Maka, setiap kali jalan, saya dibekali 1-3 nasi bungkus buatan beliau. Padahal Dari kota saya, selalu berangkat sore. Otomatis sampai Jakarta pagi hari, sekitar jam 4- 5 subuh. Padahal, di jalan bus berhenti sekali. Di warung makan. Meski sudah saya jelaskan, namun ibu tetap memaksa. Saya pun tunduk.

Selalu saja, kalau tidak tumpah, nasi tersebut basi. Sehingga, saya kebingungan. Apalagi sampai di Jakarta harus segera melakukan pekerjaan ini dan itu. Nah, suatu ketika saya nekat membuang nasi tersebut. Pulang ke rumah, saya jelaskan ke ibu, sama, ibu justru marah. Tapi, di tahun 2009, kakak yang menjelaskan. Karena kakak menyaksikan sendiri 3 bungkus nasi, bekal dari ibu nasi.

Setelahnya, ibu tidak memberikan saya bekal nasi. Tapi beliau bertanya, “Jangan lupa beli makanan di jalan.” Sudah. Itu saja.

Berbeda ibu saya, beda juga pengalaman orang lain. Artinya, manusia itu diciptakan dengan dasar sama. Meski akhirnya kondisi ketika di dunia inilah yang membuatnya beda. Ada yang hidupnya dimaknai dengan makan, ada yang hidupnya dimaknai dengan duit dan duit. Ada yang hidupnya dimaknai dengan ibadah.  Semuanya ada dalam satu kondisi. Kehidupan ini bukanlah warung makan, namun sebuah kelas dengan ujian. Jika lolos ujian, maka kita akan naik tingkat. Ketika di dunia maupun setelah mati. Allah sudah menjelaskan soal bekal dalam alquran berikut.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-baqarah:197)

Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, menjelaskan ayat di atas, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92)

Di sisi lain, alquran menjelaskan mengenai takwa. Mungkin karena sifatnya adalah amalan hati, sehingga kita terlalu menyepelekan takqwa ini. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-a’raf:26)

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, ayat di atas  menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna.

Ego manusia membedakan mana bekal, mana keinginan. Makanya, meski awalnya sama-sama lahir tanpa membawa apapun. Telanjang, lemah, di masa depannya. Manusia bisa menjadi begitu rakus, jahat, keras hati. Beberapa orang menyebutnya sebagai penjahat, pendengki. Saya sendiri menyebut dengan salah mandat.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca