by

Unconditional Love: Terlalu Buruk Semakin Baik, Apa Benar?

-Tausiyah-19 views

Memang sih, usaha wajib. Namun, jika tidak memakai strategi, tentu saja akan berakibat fatal. Sebab kebanyakan orang yang mengandalkan ambisi saja. Artinya, hati tidak diperuntukkan sebagaimana mestinya. Berbeda dengan ajaran kapitalis, islam mengajak kita semua untuk menggunakan kondisi sebagaimana mestinya. Seorang filsuf Tiongkok mengatakan, “Alam raya akan seimbang. Tercipta ketenangan ketika seorang anak berperan menjadi anak, seorang ayah berperan menjadi ayah, seorang ibu berperan menjadi ibu, dan begitu seterusnya.”

Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya mengenai produk kopi yang dipunyainya. Ada dua; kopi dan gula. Bagaimana cara mengemasnya. Saya berujar ringan. Jadikan satu, beri brand kopi sebagai lokal wisdom. Beres. Beberapa minggu kemudian, saya kaget dengan status WA beliau, karena ucapan saya benar-benar dipakai. Dan dia sedang launching kopi. Iya, kopi adalah produk yang disampaikan olehnya.

Ketika membaca status WhatsApp beliau, saya justru teringat dengan tulisan dokter. Iya, tulisan dokter selalu dianggap buruk. Susah, bahkan tidak bisa dibaca. Namun kenapa apoteker selalu bisa membaca, hayo?

Jawabannya sih mudah. Karena tulisan dokter dalam resep bukan, sekedar tulisan. Namun symbol yang ditulis dalam bahasa latin. Makanya, apoteker juga diberikan ilmu untuk membacanya. Karena semua resep obat hampir ditulis dalam bahasa latin, jadia semua symbol kaitannya erat.

Nah, pada hari yang ditentukan kawan saya mengajak saya ketemuan. Intinya, dia mau dongengan seputar branding produknya. Dan dalam bahasa jawa disebut ngangsu kawruh (baca: belajar). Tebakan saya, benar. Dia tertarik dengan konsep saya soal emosi marketing. Dia datang lagi, karena sang suami bingung; bagaimana bisa sebuah produk laris dulu baru berkualias, bukankah ini sama dengan bunuh diri?

Yap, saya pun dulu berfikir begitu. Namun, banyak kasus membuktikan, pemasaran 89 persen gagal hanya karena tidak ada inovasi. Lalu yang diandalkan Cuma duit dan uang saja. Nah, dari sini, saya coba uraikan kepada sang kawan.

Laris dulu baru kualitas, bukan berarti memberikan produk buruk. Karena, yang namanya kualitas bisa diupgrade seiring dengan pengetahuan tentang kebutuhan pasar. Misal, buka warung kopi tubruk di kawasan elit. Di daerah yang penduduknya sudak memakai mocapot untuk menyeduh kopi. Tentu saja retorikanya buruk. Dan bisa dipastikan akan susah berkembang. Namun, ketika Anda tahu kebutuhan pasar dulu, maka Anda akan bisa mengembangkan kebutuhan sesuai yang ada. Terlalu buruk semakin baik, benarkah? Benar. Tapi harus dilihat dulu konteksnya.

Ada sebuah kisah, penerbangan murah. Jangan bayangkan, namanya juga penerbangan murah. Kursinya buruk, toilet, dan lainnya. Tapi justru di era persaingan ketat begini. Keburukan itu jadi berkah. Kenapa? Karena murah. Dalam pesawat itu, iklan di mana-mana.

Saya sampaikan kisah tersebut pada teman. Saya katakan, “Dengan Brand, uang akan datang.” Tapi sangat sedikit orang yang sadar akan pentingnya brand atau dalam bahasa pengembangan adalah reputasi. Jika hidup ini sebuah produk, maka ujian, gagal dan lainnya adalah sebuah keburukan. Buruk bukan berarti jelek. Lihat dulu konteksnya. Dan Anda akan bisa mengembangkan dengan baik. Untuk mengeruk keuntungan.

Desember 2017, saya bertemu dengan beberapa rekan guru yang ingin bisa menulis buku. Jujur, saya sudah vakum hampir 1,5 tahun. Hampir hilang soal ilmu menulis. Tapi jiwa ini masih ada. Saya pun bingung soal persiapan apa, dan bagaimana cara mengajar. Apalagi, teman saya mengatakan, kalau saya penulis blab la bla. Jadilah saya mumet tidak karuan.

Buruk kondisi, ditambah mengajarnya di luar kota. Satu hal yang saya takutkan; saya paling mudah masuk angin. Sudah pasti pikiran susah untuk diajak kompromi. Saya sadar, ini keadaan buruk. Satu sisi, nilai ekonominya cukup bagus. Di sisi lain, saya juga butuh untuk penetrasi lagi. Dua keburukan bertambah.

Ketika kelas pertama dimulai, saya analisis kemampuan mereka. Jujur, saya tidak punya apapun untuk diberikan. Namun, justru salah satu dari mereka memberikan ide. Ada yang bertanya, “Seberapa efektif menulis di Facebook?”

Saya jawab, “Jika untuk belajar menulis, sangat efektif. Karena langsung ada feedback dari pembaca. Dan kita akan belajar dari sana.”

Peserta terbengong. “Bagaimana caranya?” otak kanan saya berputar cepat. Tangan kanan saya meraih buku karya saya.

“Buku ini, saya berikan sebagai hadiah buat Anda semua. Nah, silakan baca per paragraph. Nanti apa, kesan Anda setelah membaca satu paragraph tulis di Facebook. Tidak usah banyak-banyak, cukup 50-100 kata saja. Lakukan malam dan pagi hari. Intinya sehari dua kali.”

Aha, ide datang dari kondisi buruk. Saya sendiri termasuk orang yang grusa-grusuh awalnya. Namun, saya sadar, kalau terburu-buru ini, merugikan saya.

Abdurahman bin Auf, datang ke Madinah dalam kondisi miskin. Tidak punya saudara, hanya memiliki 1 pakaian yang menempel. Dan untuk makan tentu susah. Ibnu Auf sadar, kondisinya buruk. Namun ia paham kalau hal buruk harus dikuasai agar jadi baik. Maka, ketika Rosulullah menawarkan mempersaudarakan dengan orang asli Madinah, dengan jaminan fasilitas, Ibnu Auf menolak.

Apa yang dilakukan olehnya?

Ikhtiar. Iya, ikhtiar mencari pasar. Serius. Padahal, dia akan diberikan harta melimpah, dan akan dicarikan istri. Ibnu Auf hanya butuh mengangguk dan hidup enak. Tapi tidak, dia justru mencari pasar. Dan melakukan kreatifitas dengan menawarkan skill pribadi, yakni jualan. Dari sinilah dia memiliki hartanya yang begitu banyak. Kondisi buruk, akan menjadi baik jika kita mau mengubahnyaa jadi baik. Dan akan tetap jadi buruk, jika kita mencoba betah dengan kondisi buruk tersebut. Dalam semua hal, perdagangan dan lainnya pun sama. Kuncinya, percaya pada Allah, dan kemampuan diri kita.

 

 

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca