by

Unconditional Love

-Tausiyah-55 views

Apakah Anda termasuk wanita yang susah berkomunikasi? Atau Anda wanita yang selalu gagal dalam memahami soal cinta? Sebenarnya saya pun pernah merasakan begitu. Sehingga tidak penting apakah Anda gagal memahami cinta atau Anda termasuk gagal dalam komunikasi. Bagi saya Anda tetaplah yang terbaik, apalagi jika mau menjawab pertanyaan ringkas saya di bawah ini.

Mengawali bab ini saya ingin Anda membaca lirik lagi di bawah ini, kemudian menuliskan jawaban untuk saya!

Ireumi mwoyeyo (siapa namamu?)

Myeot sariyeyo (berapa umurmu?)

Saneun Gosoeun eodiyeyo (tinggal di mana?)

Lirik tersebut dari lagu Korea. Namun Anda bisa menuliskan jawaban dalam bahasa kita atau di ucapkan saja. Fokuskan perhatian dan baca ulang lirik di atas perlahan berikut jawabannya. Resapi dan rasakan, apa yang ada di dalam hati Anda.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya mengatakan kesulitan dalam pedekate dengan pasangan. Saya sampaikan, jika itu soal komunikasi maka jawabannya adalah C= Q + P + R. menurut Oh Su Hyang, C artinya komunikasi. Sedangkan Q adalah Question, P adalah Praise, sedangkan R adalah reaction. Secara mudahnya begini; rumus sukses berkomunikasi adalah pertanyaan, pujian kemudian reaksi. Terlihat mudah, namun Anda butuh praktekdan telaten.

Jika Anda sudah menikah, hidup dalam pernikahan bukanlah hal mudah. Ketersinggungan dan perbedaan karakter bisa memantik sikap tidak biasa. Pertanyaan kecil bisa menjadikan pelumas menarik untuk hubungan Anda.

R, adalah wanita berusia 32 tahun. Ia menikah sudah 12 tahun. Akhir-akhir ini ia merasakan kebosanan dalam rumah tangganya. Bahkan, ia sempat berfikir untuk mencari hiburan di luar, misalnya dengan hangout bersama teman-teman. Namun ia gagalkan, karena tidak ingin menyakiti hati suami.

Di sisi lain, sang suami begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai, waktu untuk istrinya hanya malam hari. Itupun kurang dari 3 jam. Karena begitu sampai di rumah, ia akan salat, makan, rehat sambil nonton tivi. Lalu tidur. Esoknya ia bangun jam 4, salat subuh  jam 4.30 pagi kemudian berangkat kantor jam 6 pagi tepat.

Suatu ketika, ia mengadakan janji ketemu dengan saya. Dan keluarlah semua uneg-unegnya. Satu jam berjalan, bagi saya tidak ada masalah dalam ceritanya. Semuanya berjalan dengan baik. Hanya perlu waktu dan komunikasi. Ide kecil kemudian saya sampaikan pada R. ide tersebut adalah mengirimkan pesan di WA setiap hari 1 kali. Namun pesan ini pesan special.

Bukan pesan berisi lebai seperti anak muda. Namun pesan yang mengingatkan pada tujuan pernikahan. Saya anjurkan rumus dari Oh Su Hyang, Pertanyaan, pujian, reaksi. Temanya saya sarankan yang menarik.

“Bagaimana Anda berkomunikasi pada suami, itulah cara memberikan pelumas pada hubungan rumah tangga Anda.”

Ia menjawab, “Saya memang melupakan itu. Hanya pada kesibukan biasa saja.”

Saya berpesan agar lekas mencoba. Walaupun begitu saya menekankan agar tidak mengatur suami. Misalnya, “Jangan makan diluar, jangan ini dan itu.” Buang kata jangan. Dan ganti dengan harapan, “Semoga tidak lupa makan. Semoga makan dengan menu yang sehat.”

Beda R, beda lagi masalah yang terjadi pada Y. Y beda dengan R, ia wanita yang menikah sudah lama. Anaknya pun sudah besar. Tetapi ia merasa suaminya tidak pernah berubah karakternya. Bahkan semakin tua semakin kekanakan. Membaca pesannya melalui pesan Facebook, saya tersenyum sendiri.

Saya katakan, “Hubungan lelaki dan perempuan dalam asmara perlu cinta tanpa syarat.”

Jika Anda mencintai suami kemudian Anda ingin diperhatikan, berarti Anda belum memiliki cinta tersebut. Unconditional love atau cinta tanpa syarat adalah mencintai tanpa Anda menginginkan apapun. Dengan kata lain, Anda hanya perlu mencintai tanpa menginginkan pemberian.

Nah, masalahnya sebagai wanita Anda sering terbawa perasaan. Apalagi Anda juga memiliki sifat dasar suka dipuji. Sebenarnya, masalah seperti ini banyak terjadi di kalangan rumah tangga. Beberapa waktu lalu saya mendapati data unik. Di Indonesia, mayoritas pasangan dalam rumah tangga tidak memperhatikan lagi komunikasi berbobot. Hanya asal sekenanya saja.

Makanya banyak rumah tangga mengeluh, komunikasi yang antar istri dan suami hanya berujung pertengkaran. Padahal istri ingin ada romantisme seperti ketika pacaran. Kalau Anda berkenan dengan argumentasi saya, itulah mengapa islam melarang pacaran. Karena rumah tangga yang diawali dengan pacaran, ketika mereka adalah saat menguburkan cinta.

Berbeda dengan taaruf syari dalam islam, ketika mereka menikah inilah saat penyemaikan cinta. Dan unconditional love yang sebenarnya terjadi. Bayangkan! Anda menerima lelaki yang dikenal baru 1 bulan itupun tanpa komunikasi intens. Lalu setelah 1 bulan Anda harus menjadi istrinya, berkhidmat padanya. Melayani hasrat biologisnya kapanpun waktunya. Bukankah ini berat?

Sangat berat. Tapi inilah kesempurnaan cinta. Berbeda jika Anda pacaran dulu, mengenal dulu, sentuhan tangan, ciuman dulu. Ketika Anda menikah semuanya biasa saja. Fakta membuktikan, 90 persen perceraian diawali dari pacaran, bukan dari pra nikah sesuai aturan islam.

Dicintai tanpa syarat menjadi keinginan setiap mahluk. Meski begitu pola pikir dalam komunikasi tetaplah dilakukan. Untuk sukses menerapkan undcontional lova Anda perlu memahami beberapa kebiasaan berikut:

  1. Tidak bertanya bagaimana denganku, namun bertanya bagaimana dengan Anda?
  2. Tidak bertanya lihatlah aku, namun bertanya saya akan melihat Anda
  3. Tidak meminta untuk diambilkan, tapi segera mengambilkan
  4. Tidak meminta untuk dibalas atas jasanya, namun lebih cepat membalas jasa pasangam
  5. Tidak meminta tapi menyediakan

Setidaknya, lima hal di atas bisa Anda lakukan untuk latihan. Sulit? Memang sulit. Susah dan sangat melelahkan bahkan menyakitkan. Akan tetapi, selama Anda tidak bisa memahami cinta dalam konteks tanpa syarat selama itu juga kehidupan bersama pasangan akan susah menemukan titik temu.

Sebuah pertanyaan terlontar tentang ide di atas. Berarti kalau konsepnya kita memberi tanpa mengharap diberi sama dengan menjadikan diri sebagai budak dong?

Bisa iya, bisa tidak. Ketika Anda jatuh cinta, saat itu sebenarnya Anda memosisikan diri pada kehinaan dan kelemahan. Orang bijak berkata, “Mencintai adalah lemah, sebab ia meletakkan jiwa pada posisi yang salah.”

Allah memberikan solusi, agar unconditional love tidak berujung pada kehinaan dan penganiayaan pada wanita. Dasarnya karena wanita memang dominan memakai perasaan daripada logika, sehingga iman akan menjadikannya kuat. Anda bisa menanamkan pada diri Anda aturan dari rasulullah berikut.

“Tidak boleh mentaati makhluk dengan bemaksiat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala”. (HR. Ahmad)

Dari aturan di atas, Anda akan mendapati islam pun mengajarkan cinta tanpa syarat. Karena cinta yang hakiki sebenarnya orientasinya pada illahi. Islam pun mengenal cinta tanpa syarat. Namun buka ala Rome Juliet yang penuh kemungkaran dan kebodohan. Dalam islam, undcontional love adalah cinta karena Allah.

“Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu: apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya, apabila ia mencintai seseorang, namun ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari prinsip cinta karena Allah, lahirlah pemahaman kalau pernikahan harusnya ibadah dulu baru cinta. Bukan seperti kebudayaan barat yang cinta dulu baru nafsu. Inilah yang menjadikan islam beda dengan budaya lainnya.

Penulis: Admin

Gravatar Image
Penyuka makanan pedas dan seorang ibu rumah tangga anak dua. Sedang belajar menulis cerita yang baik dan benar. Lulusan Teknik Informatika UNSIQ Wonosobo. Sedang menekuni belajar bahasa Indonesia dan tata bahasa...

Comment

Rekomendasi Pembaca